Anambas, News Faktual Net – Dalam Gedung Balai Pertemuan Masyarakat Siantan (BPMS) Tarempa, suasana khidmat terasa sejak pagi itu. Barisan prajurit TNI Angkatan Laut berdiri tegap, sementara sejumlah anggota Jalasenastri turut menyaksikan momen penuh makna, Wisuda Purnawira dan Purna Tugas prajurit Lanal Tarempa.
Upacara pada 6 Desember 2025 itu dipimpin langsung oleh Komandan Lanal Tarempa, Letkol Laut (P) Romi Sitorus, S.E. Dengan penuh penghormatan, ia melepas para prajurit telah mengabdi puluhan tahun kepada bangsa dan negara.
Bagi sebagian orang, purna tugas mungkin hanya berarti berhenti dari dinas kedinasan. Namun bagi mereka yang berdiri di hadapan barisan pasukan hari itu, purna tugas adalah penutup dari perjalanan panjang pengabdian. Perjalanan yang diisi disiplin, loyalitas, dan pengorbanan tanpa banyak keluh.
Menghormati Para Purnawirawan
Satu per satu nama disebutkan.
Letda Laut (P) (Har) Purn. M. Ibnu Saifulloh,
Serma AL Purn. Ahmad Samsuri,
Serma AL Purn. Ismudiyanto,
Serma AL Purn. Budi Prawito,
Serma AL Purn. Bakti Prastyo,
dan Serda AL Purn. Hudi Prasetyawan.
Mereka bukan sekadar nama. Mereka adalah sosok-sosok yang pernah berdiri di geladak kapal, berjaga di garis pertahanan, dan menjaga laut Nusantara dalam diam.
Saat piagam penghargaan diserahkan, beberapa tatapan terlihat berkaca. Ada haru tak perlu diucapkan. Ada rasa bangga yang mengalir tenang.
Dalam amanatnya, Komandan Lanal Tarempa menegaskan satu hal penting, purna tugas tidak berarti berpisah dari keluarga besar TNI AL.
“Secara emosional, jiwa korsa tetap terikat. Mereka tetap menjadi bagian dari kami,” ujarnya.
Karena sesungguhnya, seragam mungkin dilepas, namun nilai-nilai sebagai prajurit tetap melekat: kehormatan, disiplin, tanggung jawab, dan keteladanan di tengah masyarakat.
Usai upacara, suasana mencair dalam acara ramah tamah. Tawa ringan, sapaan akrab, dan cerita-cerita masa tugas kembali mengalir. Seolah waktu mundur ke masa ketika mereka masih berdinas bersama.
Di sanalah makna kebersamaan benar-benar terasa.
Wisuda purnawira ini bukan hanya seremoni. Ia adalah ruang untuk menundukkan kepala sejenak, menghormati perjalanan panjang para prajurit yang telah menuntaskan baktinya.
Namun nilai-nilai keprajuritan tetap mereka bawa sebagai teladan.
Karena sesungguhnya, pengabdian tidak pernah usai.
Hanya bentuknya yang berubah.
Dan di Lanal Tarempa, hari itu, sejarah kecil tentang loyalitas dicatat dengan sederhana namun penuh makna.(TM)






