Dari Balik Kamera ke Layar Cerita, Ketika Wartawan Menjadi Pemeran Film Penuh Makna

by -2 Views
Dari Balik Kamera ke Layar Cerita, Ketika Wartawan Menjadi Pemeran Film Penuh Makna

 

Lingga, News Faktual Net – Biasanya mereka berdiri di balik kamera, mencatat fakta, dan menyampaikan realita kepada publik. Namun kali ini, para wartawan di Kabupaten Lingga justru melangkah keluar dari zona nyaman, berubah menjadi pemeran dalam sebuah film pendek sarat makna kehidupan.

Adalah Production House StayAlive yang menginisiasi proyek unik ini, menggandeng para jurnalis lokal untuk terlibat langsung dalam proses kreatif perfilman. Di tangan sutradara Alang Dilaut, film sederhana ini menjelma menjadi karya tidak hanya menghibur, tetapi juga menggugah sisi kemanusiaan.

Pengambilan gambar di kawasan Tanjung Jodoh, Desa Tanjung Harapan, Kecamatan Singkep, menjadi saksi bagaimana kolaborasi tak biasa ini dibangun. Rumah warga dijadikan lokasi syuting seolah memperkuat nuansa realisme yang ingin dihadirkan dekat, hangat, dan sangat membumi.

“Ceritanya sederhana, tapi punya pesan moral kuat. Ini tentang kehidupan sehari-hari sering kita lihat, tapi jarang kita maknai,” ujar Alang Dilaut di sela proses produksi.

Yang membuat film ini semakin menarik adalah para pemerannya wartawan dari berbagai media seperti Kutipan.co, Tribun Batam, Selingga.com, iNews.id, hingga lingga.pikiran-rakyat.com. Mereka biasanya menulis cerita, kini justru menjadi bagian dari cerita itu sendiri.

Ada Suden yang tampil sebagai sosok samseng kampung, menghadirkan karakter keras namun menyimpan sisi kemanusiaan. Alang sendiri memerankan tokoh utama, pribadi pendiam yang bergulat dengan kerasnya hidup.

Sementara Wan Samsi menjadi figur religius pelit, dan Sapar hadir sebagai warga yang gemar bergosip. Potret kecil dinamika sosial yang begitu akrab di tengah masyarakat.

Di balik layar, Ricky Ardiansyah dari StayAlive mengaku tertantang sekaligus antusias dengan konsep ini. Baginya, melibatkan wartawan sebagai aktor bukan hanya unik, tetapi juga menghadirkan warna baru dalam proses produksi.

“Biasanya mereka meliput berita, sekarang mereka jadi cerita. Ini pengalaman berbeda dan menarik,” katanya.

Film ini mengangkat kisah Alang seorang pria dengan pekerjaan serabutan yang hidup dalam keterbatasan. Di tengah tekanan ekonomi dan kerinduan untuk pulang kampung, ia tetap menjalani hidup dengan ketulusan.

Sebuah kebaikan kecil ia lakukan di bulan Ramadan menjadi titik balik, bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi Suden, sosok preman yang perlahan berubah karena sentuhan kemanusiaan.

Cerita mengalir sederhana ini justru menjadi kekuatan utama. Ia tidak menawarkan kemewahan visual, melainkan kedalaman rasa tentang empati, harapan, dan perubahan.

Rencananya, film pendek ini akan diluncurkan pada momentum Hari Raya Idul Fitri 2026. Sebuah waktu yang tepat untuk menghadirkan refleksi tentang makna kebaikan, maaf, dan perubahan diri.

Lebih dari sekadar tontonan, film ini adalah cermin, bahwa di tengah kehidupan keras, selalu ada ruang untuk kebaikan tumbuh, bahkan dari hal-hal kecil yang sering dianggap sepele.(Taufik Safira)

No More Posts Available.

No more pages to load.